Pages

Selasa, 18 Desember 2012

Akhlak Mulia Rasulullah


TRIK RASULULLAH MENAKLUKKAN HATI UMAT

Allah telah menganugerahkan cara kepada Rasulullah untuk menundukkan dan menaklukkan hati umatnya. Bahkan, seorang nabi harus memiliki cara tersebut. Ada empat cara yang dimiliki Rasulullah, yaitu:

Shiddiq
Secara bahasa, arti shiddiq adalah benar. Maksudnya, seorang nabi harus benar dalam berbagai macam aspek, seperti akidah (keyakinan), perilaku dan niatnya, sehingga ia dapat menjadi uswah al-hasanah (teladan yang baik) bagi umatnya. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan ia banyak menyebut nama Allah.” (QS. Al Ahzab: 21).
Sifat shiddiq yang ada pada diri Rasulullah bisa menjadi dalil hukum syara’, karena perkataannya itu menjadi hadits qauli, perbuatannya menjadi hadits fi’li, dan sikap diamnya merupakan hadits taqriri.
Sifat shiddiq yang terdapat pada Rasulullah hukumnya adalah wajib ‘aqli dan wajib syar’i. Wajib ‘aqli artinya sifat shiddiq Rasulullah dapat dibenarkan oleh akal (logis) dan mustahil mereka berbohong. Sedangkan wajibsyar’i artinya Rasulullah diperintahkan oleh Allah agar senantiasa benar (shiddiq), dan Allah akan memberikan pahala kepada mereka karena sifat shiddiq yang mereka miliki.
Bagi umat Islam, memiliki cara ini hukumnya wajib syar’i dan mumkin al wujud secara akal. Maksudnya, orang yang memiliki sifat shiddiq akan mendapatkan pahala, sedangkan apabila berdusta, ia akan menerima siksaan. Jika kita ingin memiliki sifat shiddiq seperti Rasulullah, kita harus mengikuti jejak langkahnya, mulai dari cara beliau bangun tidur, bermasyarakat, hingga sikapnya dalam menghadapi watak dan karakter manusia yang beragam. Masih banyak hal lain yang harus kita ikuti dari diri Rasulullah.
Amanah
Amanah artinya tepercaya. Adapun maksudnya adalah bahwa Allah telah memberikan kepercayaan kepada Rasulullah untuk memegang teguh dan memelihara ajaran agama. Dalam menjalankan perintah Allah, beliau tidak peduli dengan cacian orang lain terhadap dirinya. Mereka bersikap istiqamah dalam menjalankan perintah dan hukum agama. Apabila Allah memerintahkan suatu perkara, beliau adalah orang yang pertama kali melaksanakannya. Rasulullah akan merasa berdosa jika mereka hanya bisa berkata, tetapi tidak dibuktikan dengan perbuatan. Allah berfirman, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Al Shaff: 3).
Tabligh
Tabligh adalah menyampaikan syari’at (perintah atau larangan Allah) kepada manusia, karena mustahil Rasulullah akan menyembunyikannya. Akan tetapi tugas Rasulullah sebatas menyampaikan (tabligh) saja. Ada atau tidak adanya orang yang beriman dan mengikutinya adalah urusan Allah. Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah mengetahui orang-orang yang menerima petunjuk.” (HR. al Qashash: 56).
Misalnya, nabi Nuh berdakwah (tabligh) selama beberapa ratus tahun, tetapi orang yang beriman kepadanya masih bisa dihitung dengan jari, yaitu sekitar 83 orang saja.
Fathonah
Arti fathonah adalah pintar atau cerdas dalam berbagai bidang, seperti kecerdasan Rasulullah dalam mematahkan argumen musuh, pintar dalam bidang ilmu, baik ilmu kemasyarakatan, politik maupun ekonomi, serta cerdas dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. Dalam fathonah, nabi Ibrahim mematahkan argument raja Nabmrud, nabi musa sanggup meruntuhkan kerajaan Fir’aun, dan nabi Muhammad bisa menaklukkan kerajaan Persia.
Shiddiqamanahtabligh, dan fathonah yang dimiliki Rasulullah, menyebabkan beliau dicintai Allah. Bahkan Allah memberikan gelar kehormatan kepada beliau, seperti habibullah, dan sebagainya. Rasulullah juga mendapatkan keistimewaan (kelebihan) dibandingkan makhluk yang lain. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imron melebihi segala umat.” (QS. Ali Imron: 33).
Oleh karena itu, apabila kita ingin dicintai Allah dan meraih kedudukan (gelar) istimewa di sisi-Nya, keempat sifat di atas harus kita miliki. Allah berfirman, “Katakanlah, ‘jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron: 31).
Share

0 komentar:

Poskan Komentar